Tanggal Pelaksanaan : 5 Juni 2012 Tujuan : Untuk mengetahui bintik buta mata seseorang Landasan Teori :
Benda yang terkena cahaya akan membiaskan cahayanya melalui kornea dan diteruskan ke aqeus humor, pupil, lensa mata, vitrous humor,
kemudian retina. Cahaya yang masuk ke bagian bintik kuning retina akan
mengenai sel-sel batang dan kerucut. Sel kerucut sebagai fotoreseptor
yang peka cahaya akan menangkap rangsang dan mengubahnya menjadi impuls
yang dihantarkan ke saraf optik ke otak besar bagian belakang (lobus oksipitalis). Pada lobus oksipitalis ini terjadi asosiasi berupa kesan melihat benda Pembiasan
cahaya dari suatu benda akan membentuk bayangan benda jika cahaya
tersebut jatuh di bagian bintik kuning pada retina, karena cahaya yang
jatuh pada bagian ini akan mengenai sel-sel batang dan kerucut yang
meneruskannya ke saraf optik dan saraf optik meneruskannya ke otak
sehingga terjadi kesan melihat. Sebaliknya, bayangan suatu benda akan
tidak nampak, jika pembiasan cahaya dari suatu benda tersebut jatuh di
bagian bintik buta pada retina
Alat dan Bahan :
1. Kertas ukuran 5 x 10
2. Pulpen
3. Penggaris panjang
Cara kerja :
1.Buatlah potongan kertas dengan ukuran 5
x 10 cm.
2.Berilah tanda + dan tanda – dengan
antara 6 cm.
3.Tangan kiri menutup mata kiri dan tangan
kanan memegang kertas yang tadi sementara penggaris ditaruh diatas bahu.
4.Pusatkan mata kanan pada tanda +
5.Hitung jauhnya titik dekat anda
Hasil percobaan :
Nama
Titik
dekat
Percobaan
1
Percobaan
2
Muh
Nasri
35
cm
30
cm
Nursyamsi
Nur
25
cm
25
cm
Nurhudayah
28
cm
28
cm
Kesimpulan :
Jarak bintik buta pada mata kanan kiri manusia rata-rata adalah sama.
Bayangan benda tidak terlihat pada jarak tertentu, karena pembiasan
cahaya dari benda tersebut jatuh di bagian bintik buta pada retina
karena cahaya yang jatuh pada bagian ini tidak mengenai sel-sel batang
dan kerucut sehingga tidak ada impuls yang diteruskan ke saraf optik
yang akhirnya menyebabkan tidak terjadinya kesan melihat. Sebaliknya,
jika pembiasan cahaya dari suatu benda tersebut jatuh di bagian bintik
kuning pada retina, maka bayangan benda akan terlihat.
1.Tempatkan tangan didepan mata dengan posisi tangan telunjuk dan jempol terbuka
2.Sementara teman akan menjatuhkan penggaris
3.Lihat reaksi saraf ketika rangsang dijatuhkan dan anda harus menangkap penggaris itu.
Berapa panjang yang anda peroleh pada saat menangkap penggaris.
4.Catat hasil percobaan pada tabel
Hasil Percobaan :
Eksperimen 1
(tidaktutupmata)
Tabel kecepatan Reaksi A
Nama
Angka
yang terbacapadapenggaris
Percobaan
Rata-rata
1
2
3
NursyamsiNur
14
cm
10
cm
15
cm
13
cm
MuhNasri
26
cm
10
cm
8
cm
14,67
cm
Nurhudayah
24
cm
23
cm
18
cm
21,6
cm
Eksperimen 2
(tutupmata)
Nama
Angka
yang terbacapadapenggaris
Percobaan
Rata-rata
1
2
3
NursyamsiNur
29
cm
20
cm
13
cm
20,6
cm
MuhNasri
30
cm
30
cm
30
cm
30
cm
Nurhudayah
28
cm
14
cm
21
cm
22
cm
Respon Stimulus :
Cara kerja :
1.Buatlah lingkaran dengan saling memegang tangan teman.
2.Hidupkan stopwatch dan mulai mengoper
stopwatch itu hingga kembali keposisi semula. Pertama dilakukan dengan mengoper yang dimulai dengan tangan kanan kekiri,kemudian kedua dimulai dengan tangan kiri kekanan.
3.Catat berapa lama anda mengoper stopwatch
tersebut hingga kembali keposisi semula
Hasil percobaan :
a.Percobaan pertama Stopwatch ( kanan )
·Kecepatan : 3 detik
b.Percobaan kedua Stopwatch (kiri
·Kecepatan : 4 detik
Bahan diskusi :
1.Apa kesimpulan yang dapat kalian
buat tentang hasil eksperimen tersebut ?
2.Apakah kegiatan ini penting bagi seorang pengemudi mobil
?jelaskan !
3.Bandingkan hasil eksperimen yang
dua dengan pertama. Adakah perbedaannya ?
Jawab :
1.Dalam eksperimen dapat diambil kesimpulan bahwa konsentrasi dan kecepatan indera dalam menanggapi rangsangan sangat mempengaruhi cara kerja saraf dalam menanggapi rangsang.
2.Penting sekali karena pada eksperimen ini kita menggunakan konsentrasi dan alat indera sesuai dengan pengemudi
yang juga melibatkan konsentrasi dan alat indera.
3.Ada. Karena eksperimen pertama lebih cepat di bandingkan eksperimen
kedua.
Foto Percobaan :
Nama Kelompok : 1. Nurhudayah 2. Nursyamsi Nur 3. Muh Nasri
1. Tujuan : Mengetahui efek Asap rokok terhadap paru-paru
dengan menggunakan
model
2. Landasan Teori
Definisi rokok menurut wikipedia adalah silinder dari kertas
berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan
diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok
dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat
dihirup lewat mulut pada ujung lain.
Ada dua jenis rokok, rokok yang berfilter dan tidak berfilter.
Filter pada rokok terbuat dari bahan busa serabut sintetis yang berfungsi
menyaring nikotin.
Rokok biasanya dijual dalam bungkusan berbentuk kotak atau
kemasan kertas yang dapat dimasukkan dengan mudah ke dalam kantong. Sejak
beberapa tahun terakhir, bungkusan-bungkusan tersebut juga umumnya disertai
pesan kesehatan yang memperingatkan perokok akan bahaya kesehatan yang dapat
ditimbulkan dari merokok, misalnya kanker paru-paru atau serangan jantung.
Manusia di dunia yang merokok untuk pertama kalinya adalah suku
bangsa Indian di Amerika, untuk keperluan ritual seperti memuja dewa atau roh.
Pada abad 16, Ketika bangsa Eropa menemukan benua Amerika, sebagian dari para
penjelajah Eropa itu ikut mencoba-coba menghisap rokok dan kemudian membawa
tembakau ke Eropa. Kemudian kebiasaan merokok mulai muncul di kalangan
bangsawan Eropa. Tapi berbeda dengan bangsa Indian yang merokok untuk keperluan
ritual, di Eropa orang merokok hanya untuk kesenangan semata-mata. Abad 17 para
pedagang Spanyol masuk ke Turki dan saat itu kebiasaan merokok mulai masuk
negara-negara Islam.
Sekali lagi, sebuah studi memperlihatkan bahwa merokok tidak
hanya berbahaya bagi diri sendiri namun juga bagi lingkungan sekitar mereka.
Laporan dari Dr Paolo Vineis seperti yang dilansir oleh The British Medical
Journal menyatakan anak-anak memiliki resiko paling besar dari para orangtua
perokok.
Dampak perokok pada non perokok (perokok pasif) sudah lama
diketahui. Namun bahaya mengenai orangtua perokok pada kesehatan anak-anak baru
kini mengemuka. Dari penelitian yang dilakukan oleh Dr Paolo Vineis disejumlah
negara Eropa diketahui bahwa anak-anak mengalami dampak paling tinggi.
Yaitu sekitar tiga kali lipat terkena kanker paru-paru dan
masalah yang berhubungan dengan pernafasan lainya dari orangtua yang perokok.
Resiko anak-anak terkena kanker paru-paru mengalami kenaikan sampai
3.6 kali dari orangtua perokok karena anak-anak ini telah menjadi seorang
perokok pasif.
Merokok dirumah memang tidak dilarang namun Dr Paolo menyarankan
orang tua seharusnya tidak merokok di rumah saat anak-anak mereka berada
disekitarnya. Dr. Norman Edelman memberikan saran lain bahwa seandainya harus
merokok disarankan untuk tidak merokok diruangan tertutup.
Setiap batang rokok yang dinyalakan akan mengeluarkan lebih 4
000 bahan kimia beracun yang membahayakan dan boleh membawa kematian. Dengan ini
setiap hisapan itu menyerupai satu hisapan maut. Di antara kandungan asap rokok
termasuklah bahan radioaktif (polonium-201) dan bahan-bahan yang digunakan di
dalam cat (acetone), pencuci lantai (ammonia), ubat gegat (naphthalene), racun
serangga (DDT), racun anai-anai (arsenic), gas beracun (hydrogen cyanide) yang
digunakan di "kamar gas maut". Bagaimanapun, racun paling penting
adalah Tar, Nikotin dan Karbon Monoksida.
Tar mengandung sekurang-kurangnya 43 bahan kimia yang diketahui
menjadi penyebab kanker (karsinogen). Bahan seperti benzopyrene yaitu sejenis
policyclic aromatic hydrocarbon (PAH) telah lama disahkan sebagai penyebab
kanker.
Nikotin, seperti najis dadah heroin, amfetamin dan kokain,
bertindak balas di dalam otak dan mempunyai kesan kepada sistem mesolimbik yang
menjadi penyebab utama ketagihan. Nikotin turut menjadi punca utama risiko
serangan penyakit jantung dan strok. Hampir satu perempat pasien penyakit
jantung adalah karena kebiasaan merokok.
Karbon Monoksida pula adalah gas beracun yang biasanya
dikeluarkan oleh knalpot kendaraan.
Apabila racun rokok itu memasuki tubuh manusia , akan membawa
kerusakkan pada setiap organ yang dilaluinya, bermula dari hidung, mulut,
tenggorokan, saluran pernafasan, paru-paru, saluran darah, jantung, organ
reproduksi, sehinggalah ke saluran kencing dan kandung kemih , yaitu apabila
sebahagian dari racun-racun itu dikeluarkan dari badan dalam bentuk air seni.
3. Metodologi Penelitian
Alat dan Bahan :
a.Selang plastic
b.Rak tabung reaksi
c.Korek api
d.Pompa pengisap
e.Pinset
f.Kapas
g.Pipa U
h.Kertas indikator PH
i.Gelas beker
j.Air ( 500 ml )
k.Rokok sigaret filter dan tanpa filter
Cara kerja :
1.Susunlah perangkat percobaan seperti gambar dibawah.
Masukkan air kedalam gelas
beker dan tabung reaksi sebanyak 500 ml
2.Tempatkanlah rokok sigaret tanpa filter pada ujung selang
plastic kemudian bakar
3.Tekanlah pompa pengisap sehingga rokok terbakar dan mengeluarkan
asap. Tekan terus pompa penghisap tersebut sehingga rokok menyisakan sedikit
punting.
4.Ambillah kapas dari dalam pipa U dengan menggunakan pinset.
Catatlh perubahan yang terjadi.
5.Masukkanlah kerta indicator PH kedalam tabung dan ukur pH nya
6.Ulangi percobaan yang sama dengan yang baru dan menggunakan
tabung yang bersih
7.Lakukanlah pengujian seperti halnya pada rokok sigaret tanpa
filter.
b. Gambar Hasil Percobaan
Perakitan Alat
Proses Percobaan
Hasil Percobaan
c. Hasil Pengamatan
a. Pada percobaan pertama pada rokok yang memakai filter dan bermerek Clas Mild menghasilkan warna kapas yang mulanya berwarna putih
berubah menjadi kecoklatan hal itu merupakan bukti bahwa pada asap rokok
terkandung zat yaitu TAR. dan memiliki Keasaman dengan pH5
b. Pada percobaan kedua pada rokok tanpa filter dan bermerek Dji Sam Soe menghasilkan warna kapas yang mulanya berwarna putih berubah menjadi sedikit coklat dan memiliki keasaman dengan pH 4
Keterangan :
Pada percobaan kedua kami terjadi Error yang terdapat pada kebocoran tanung reaksi yang ditutupi dengan gabus sehingga udara masuk dan asap rokok keluar.
Dan sebenarnya yang berwarna Lebih Kecoklatan yaitu rokok yang tidak memakai filter,bukan yang memakai filter.
Kesimpulan :
Dari hasil percobaan yang kami lakukan dapat disimpulkan bahwa rokok sangat berbahaya bagi paru paru kita karena rokok mengandung senyawa TAR yang sangat berbahaya. Oleh karena itu marilah kita hindari untuk tidak mengonsumsi Rokok.
•Bius katak yang akan dibedah dengan pembius/alcohol
•Letakkan dan beri pentul pada bagian sayap dan kaki.
•Iris badan katak mulai dari dubur hingga ke leher.
•Hilangkan daging yang terdapat pada bagian dada hingga terlihat
organ-organ dalamnya.
•Ambillah alat-alat pencernaan yang terdapat pada katak, mulai dari
mulut hingga anus ( kloaka ).
•Ulurkanlah alat pencernaan pada katak dari mulut hingga anus (
kloaka ).
•Silahkan identifikasi semua alat-alat pencernaan pada katak.
b.
BEDAH KELINCI :
•Bius kelinci yang akan dibedah dengan pembius/alkohol, atau bisa
juga dengan memotongnya jika ingin memanfaatkan dagingnya.
•Letakkan dan beri pentul pada bagian sayap dan kaki. Atau bisa
memegang kedua kaki dan tangannya agar tidak mengganggu pada proses pembedahan.
•Iris badan kelinci mulai dari dubur hingga ke leher.
•Hilangkan daging yang terdapat pada bagian dada hingga terlihat
organ-organ dalamnya.
•Ambillah alat-alat pencernaan yang terdapat pada kelinci, mulai
dari mulut hingga anus.
•Ulurkanlah alat pencernaan pada kelinci dari mulut hingga anus.
•Silahkan identifikasi semua alat-alat pencernaan pada kelinci
tersebut
C. BEDAH KADAL :
•Bius kadal yang akan dibedah dengan pembius/alcohol
•Letakkan dan beri pentul pada bagian tangan dan kaki.Iris badan kadal mulai dari dubur hingga ke leher.
•Hilangkan daging yang terdapat pada bagian dada hingga terlihat
organ-organ dalamnya.
•Ambillah alat-alat pencernaan yang terdapat pada katak, mulai dari
mulut hingga anus ( kloaka ).
•Ulurkanlah alat pencernaan pada kadal dari mulut hingga anus (
kloaka ).
•Silahkan identifikasi semua alat-alat pencernaan pada kadal.
.
3.Laporan Hasil Penelitian
a.Pembedahan Katak
1.Rongga mulut
·Rahang Atas
Pada
cavum oris ini terdapat lingua yang berbentuk bifida yang berfungsi untuk
menangkap mangsa, pada lingua ini disokong oleh apparatus hyodeus (Radiopoetro)
Organ
ini juga terdapat Dentes yang terletak pada dua bagian tepat. yang pertama pada
tepi maxilla yang berderet panjang dan yang kedua pada suatu bidang kecil pada
vomer dan memenuhinya. Giginya tersebut berbentuk conus atau kerucut, tidak memiliki
pulpa atau jaringan syaraf dan melekat pada tulang. Giginya tersebut berfungsi
untuk memegang mangsa (Radiopoetro)
·Palatum
Pada paltum terdapat susunan cilia, yang berfungsi untuk
menimbulkan aliran cairan-cairan mulut pada permukaan dinding cavum oris.
·Pterygoid
Mempunyai
tiga cabang, kea rah anterior, medial, dan latero posterior
·Rahang Bawah
Pada rahang bawah amphibi hanya terdiri oleh duah buah
tulang, yaitu os dentarium dan os angulo sphlenium (Anonim, 2008)
2.Faring
3.Esophagus
Setelah dari dari cavum oris, makanan menuju
esofagus yang berupa saluran pendek. Esofagus akan menghasilkan sekresi
alkalis dan mendorong makanan masuk lambung. Berbentuk saluran pendek.
4.Ventrikulus
Pada organ ini berbentuk seperti
kantung, bila terisi makanan akan menjadi lebih lebar. Ventrikulus terdiri dari
dua saluran, pertama adalah cardia yang berfungsi sebagai tempat masuknya
esophagus, dan yang ketiga pylorus yang berbentuk lubang untuk menuju
intestinum.
Pada dinding ventriculus ini
terdapat kelenjar pencernaan makanan yang menghasilkan pepsin dan HCL.
Pemasukan makanan dari ventrikulus ke duodenum diatur oleh m. sphincter pylori
(Radiopoetro)
Lambung
berfungsi sebagai gudang makanan. Berbentuk kantung yang bila terisi makanan
menjadi lebar. Lambung katak dapat dibedakan menjadi 2, yaitu tempat masuknya
esofagus dan lubang keluar menuju usus. Bagian muka ventrikulus yang besar
disebut cardiac, sedang bagian posterior mengecil dan berakhir di
pyloris.
Kontraksi dinding otot ventrikulus meremas makanan menjadi hancur dan dicampur
dengan sekresi ventrikulus yang mengandung enzim atau fermen, yang
merupakan katalisator. Tiap – tiap enzim mengubah sekelompok makanan menjadi ikatan
– ikatan yang lebih sederhana. Enzim yang dihasilkan oleh ventrikulus dan
intestinum terdiri atas pepsin, tripsin, erepsin untuk protein, lipase untuk
lemak.
Di samping itu, ventrikulus juga menghasilkan asam klorida untuk mengasamkan
bahan makanan. Mengasamkan bahan makanan berguna untuk membunuh mangsa dan
membunuh kuman penyakit, mengingat mangsa katak adalah serangga atau hewan
kecil lainnya yang mungkin masih hidup. Gerakan yang menyebabkan makanan
berjalan dalam saluran disebut gerakan peristaltik.
Di
dekat lambung, menempel pankreas yang berwarna kuning yang menghasilkan enzim
untuk mencerna makanan.
5.Intestinum tenue (usus)
Intestinum
tenue terdiri dari :
Dapat
dibedakan atas usus halus dan usus tebal. Usus halus meliputi: duodenum.
jejenum, dan ileum, tetapi belum jelas batas-batasnya.
Duodenum atau usus dua belas jari
bagian usus ini kaya dengan sel-sel piala yang menghasilkan mucus, disini
makanan diabsorbsi masuk kedalam systema portae hepatis, yaitu susunan venae
yang membawa hasil-hasil pencernaan dari intestinum ke hepar sebelum kembali ke
cor, dilanjutkan ke jejunum.
Di
dalam usus terjadi penyerapan makanan oleh enzim yang dihasilkan pankreas.
Makanan masuk ke dalam intestinum melalui ventrikulus melalui klep pyloris.
Di
dalam usus besar katak hanya terjadi penyerapan air dan pembusukan sisa
makanan. Bahan makanan yang merupakan sisa dalam intestinum mayor akan menjadi
feses. Usus besar berakhir pada rektum dan akan menuju kloaka.
6.Kloaka
Organ ini merupakan ujung dari
saluran pencernaan atau muara dari saluran pencernaan. Organ ini sebenarnya
mempunyai tiga fungsi, selain sebagi muara pencernaan, organ ini juga sebagai
rongga kelamin dan rongga urin (Anonim, 2008)
b.Pembedahan Kadal
Sistem
pencernaan makanan pada reptil meliputi saluran pencernaan dan kelenjar
pencernaan. Reptil umumnya karnivora (pemakan daging). Secara berturut-turut
saluran pencernaan pada reptil meliputi:
1.Rongga mulut: bagian rongga mulut
disokong oleh rahang atas dan bawah, masing-masing memiliki deretan gigi yang
berbentuk kerucut, gigi menempel pada gusi dan sedikit melengkung ke arah
rongga mulut. Pada rongga mulut juga terdapat lidah yang melekat pada tulang
lidah dengan ujung bercabang dua,
2.Esofagus (kerongkongan),
3.Ventrikulus (lambung),
4.Intestinum: terdiri atas usus halus
dan usus tebal yang bermuara pada anus.
Kelenjar pencernaan pada reptil
meliputi hati, kantung empedu, dan pankreas. Hati pada reptilia memiliki dua
lobus (gelambirf dan berwarna kemerahan. Kantung empedu terletak pada tepi
sebelah kanan hati. Pankreas berada di antara lambung dan duodenum, berbentuk
pipih kekuning-kuningan.
c.
Pembedahan kelinci
Sistem pencernaan makanan pada kelinci (Lepus
nigricollis) terdiri dari saluran-saluran pencernaan dan kelenjar
pencernaan. Saluran pencernaan dimulai dari rongga mulut, pharynk, esophagus,
ventriculus, intestinum dan berakhir di anus. Rongga mulut pada kelinci (Lepus
nigricollis) dibentuk oleh atap dan dasar, atap terdiri atas palatum durun
yang berupa langit-langit keras disebelah anterior dan palatum molle yang
merupakan langit-langit lunak dan didalam rongga mulut terdapat gigi yang
tertanam dalam alveolus (lubang dalam rahang). Gigi pada kelinci (lepus
nigricollis) berfungsi untuk memotong atau mengerat makanan. Pharynk
berfungsi untuk rongga dibelakang mulut yang merupakan persimpangan jalan
makanan dari jalan respirasi. Oesophagus merupakan pipa musculus yang sempit
yang menembus diafragma masuk ke dalam abdomen. Ventriculus merupakan kantong
sebagai lanjutan dari oesophagus yang dapat dibedakan atas cardia, pylorus yang
bersambung dengan deodenum dan fundus. Selain itu terdapat juga kelenjar
pencernaan yang meliputi kelenjar ludah, menghasilkan saliva yang mengandung
enzim-enzim pencernaan. Kelenjar empedu dikeluarkan oleh hati, pankreas
menghasilkan hormon insulin dan kelenjar pencernaan (Brotowidjoyo, 1994).
Lidah mempunyai papila perasa. Terdapat 4 pasang
kelenjar ludah, yaitu parotid, infraorbital, submaxilari dan sublingual.
Terdapat kandung empedu dengan saluran getah pankreas yang bermuara
kedalam duodenum. Sekum (caecum) bedar berdinding tipis, panjangnya
kira-kira 50 cm dengan apendiks fermiformis (umbai cacing) yang bentuknya
seperti jari (Brotowidjoyo, 1994).